Prolead Indonesia – Joseph Osdar meluncurkan buku yang mengulas perjalanan kepemimpinan Prabowo Subianto dalam sebuah acara yang digelar di Parle Resto kawasan Senayan Park, Minggu 15 Februari 2026.
Peluncuran tersebut dihadiri sejumlah tokoh politik dan pemerintahan.
Acara dibuka dengan sambutan Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo. Ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang mengedepankan rasionalitas dan kepentingan bangsa.
“Politik akal sehat adalah keberanian untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak populer, namun sangat krusial bagi keselamatan negara. Termasuk ketika Beliau memutuskan untuk menata kembali sistem perekonomian Indonesia sesuai amanah konstitusi UUD 1945 khususnya pasal 33 sebagai landasan konstitusional perekonomian Indonesia yang menekankan asas kekeluargaan, penguasaan negara atas cabang produksi penting, dan pengelolaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat,” ujarnya.
Ia juga mengenang pertemuan awalnya dengan Prabowo saat masih menjadi wartawan muda.
“Saya jenderal perang, bukan jenderal golf. Kalimat itu membekas hingga hari ini sebagai simbol karakter yang autentik, tegas, dan tidak mau terjebak dalam politik pencitraan yang sifatnya kosmetik,” kata Bamsoet.
Dalam kesmpatan tersebut, Akademisi Rocky Gerung menyoroti sikap Prabowo dalam debat Pilpres 2019 yang menurutnya menunjukkan etika politik.
“Harus saya akui, Prabowo memang punya semacam sense of keperwiraan. Dia tidak ingin menghina Presiden Jokowi di atas panggung,” jelasnya.
Sementara Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, menilai buku tersebut merekam fase rekonsiliasi nasional.
“Buku ini dengan apik memaparkan bagaimana instrumen seperti pemberian maaf, merangkul lawan, hingga konsolidasi elite menjadi bagian dari healing process bangsa kita. Dalam kacamata konstitusi, stabilitas adalah prasyarat bagi tegaknya hukum. Apa yang ditulis Osdar mengenai politik akal sehat Prabowo sejalan dengan kebutuhan kita akan kepemimpinan yang mampu menyatukan, bukan membelah,” ujarnya.
Pernyataan ini disambung Fadli Zon yang menyebut arah kebijakan ekonomi pemerintah saat ini sebagai upaya kembali pada prinsip konstitusi.
“Pekerjaan besar kita sekarang adalah melakukan koreksi terhadap neoliberalisme. Pak Prabowo ingin mengembalikan ekonomi kita ke jalur konstitusi yang sifatnya imperatif yaitu bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat,” katanya.
Peluncuran buku ini memperlihatkan satu benang merah penting bagi diskursus kepemimpinan Indonesia bahwa stabilitas, rekonsiliasi, dan keberanian mengambil keputusan strategis merupakan fondasi utama kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan bangsa.