Prolead Indonesia – Menjelang kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026, diskursus kepatuhan regulasi sering dipandang sebagai urusan administratif.
Namun di lapangan, keberhasilan kebijakan justru ditentukan oleh kepemimpinan informal yang bekerja dekat dengan masyarakat.
Salah satu figur tersebut adalah Illah Ernawati, pendamping halal yang memilih memulai perubahan dari pendekatan personal kepada pelaku UMKM.
Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pengusaha kecil, Illah tidak datang sebagai aparat, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang ia dampingi. Ia memahami bahwa transformasi usaha kecil tidak dimulai dari regulasi, tetapi dari kepercayaan.
“Pendampingan bagi saya bukan sekadar tugas, tetapi bagian dari keseharian. Saya datang sebagai sesama pelaku usaha, bukan sebagai pengawas,” ungkapnya.

Kepemimpinan Berbasis Kepercayaan
Pendekatan Illah mencerminkan model kepemimpinan partisipatif, membangun kesadaran sebelum menuntut kepatuhan. Ia aktif mendatangi pelaku UMKM secara langsung, berdialog, serta menjelaskan manfaat legalitas usaha secara persuasif.
Di lapangan, ia menemukan bahwa hambatan utama bukanlah biaya atau prosedur, melainkan keraguan dan kurangnya pemahaman.
“Banyak yang masih khawatir soal data dan belum melihat manfaatnya. Kami tidak memaksa. Tugas kami menjelaskan, bukan menekan,” ujarnya.
Baginya, Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal bukan sekadar dokumen, tetapi simbol kepercayaan publik. Legalitas usaha membuka akses pasar, meningkatkan kredibilitas, dan memperkuat posisi pelaku usaha kecil di tengah persaingan yang semakin ketat.

Kepemimpinan yang Lahir dari Pengalaman
Berbeda dari pendekatan kebijakan yang bersifat top-down, kepemimpinan Illah lahir dari pengalaman personal sebagai pelaku UMKM.
Ia memahami tantangan modal, distribusi, hingga kepercayaan konsumen, sehingga mampu menjembatani kebijakan pemerintah dengan realitas usaha kecil.
Baginya, pendampingan adalah bentuk kontribusi sosial sekaligus proses pembelajaran.
“Ini bukan sekadar pekerjaan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari melihat semangat teman-teman UMKM yang ingin berkembang,” tuturnya.

Mendorong Ekosistem yang Lebih Inklusif
Menjelang penerapan kewajiban sertifikasi halal nasional, Illah menilai keberhasilan program tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada kemudahan akses bagi pelaku usaha kecil.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan yang ramah UMKM, baik dari sisi prosedur maupun pembiayaan.
“Yang penting dipermudah. Jika aksesnya jelas dan terjangkau, kami di lapangan bisa bekerja dengan semangat,” katanya.
Kepemimpinan Sunyi yang Berdampak Besar
Kisah Illah Ernawati menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dalam jabatan formal. Ia dapat tumbuh dari individu yang memilih terlibat, membangun kepercayaan, dan menggerakkan perubahan dari komunitasnya sendiri.
Di tengah agenda besar sertifikasi halal nasional, kepemimpinan seperti inilah yang menjadi fondasi keberhasilan, kepemimpinan yang dekat, inklusif, dan berangkat dari empati.
Figur Illah merepresentasikan wajah kepemimpinan Indonesia masa depan, bukan hanya memimpin dari atas, tetapi menggerakkan dari tengah masyarakat.