Prolead Indonesia, Spotlight – Lebih dari 16 tahun berkecimpung di dunia public relations (PR), Ahmad Fadli dikenal sebagai tangan dingin di balik kesuksesan berbagai brand ternama, mulai dari Guinness, Smirnoff Ice, Suzuki, Piaggio, hingga Blue Elephant Restaurant.
Karier Fadli dimulai pada 2009 di Ogilvy Public Relations Indonesia, salah satu agensi PR paling berpengaruh. Dari titik awal ini, ia menapaki perjalanan panjang yang membawanya ke posisi strategis, termasuk menjadi Media Relations Manager di Ogilvy pada 2015.
Prestasi itu kemudian membawanya ke PT Sarimelati Kencana (Pizza Hut Delivery) sebagai Marketing Communications, berlanjut ke PT Digital Yinshan Technology sebagai Head of Public Relations, hingga akhirnya menjabat sebagai Head of Media Relations di Burson Indonesia.
Sepanjang kariernya, Fadli menonjol berkat kemampuannya merangkai cerita yang membuat brand hidup di mata publik. Bagi Fadli, PR bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan seni membangun hubungan melalui kisah yang menyentuh.
Dari Strategi Komunikasi ke Meja Makan
Di balik dunia PR yang sarat diplomasi, Fadli memiliki bahasa universal lain, yaitu makanan. Menurutnya, makanan dan PR sejatinya tak jauh berbeda.
Keduanya berurusan dengan rasa, pengalaman, dan emosi. Bedanya, yang satu dikemas untuk publik, yang lain hadir di meja makan. “Makanan bukan sekadar kebutuhan, tapi cerita. Setiap gigitan menghadirkan kenangan, kebersamaan, bahkan kebahagiaan. Itu alasan saya akhirnya terjun ke bisnis kuliner,” ujarnya.
Awalnya, Fadli mempertimbangkan berbagai usaha seperti barbershop atau laundry, tetapi keterbatasan waktu membuatnya memilih bisnis frozen food. Ini memungkinkan fleksibilitas, sementara ia tetap bisa bekerja. Ditambah, ia memiliki tim yang handal dalam urusan memasak.
Hasilnya adalah 9 Nine Bite, brand frozen food yang menghadirkan Pempek Palembang, Dimsum, dan Mochi Ice Cream.
Fadli membangun brand ini dengan strategi matang: logo profesional, feed media sosial menarik, serta strategi awareness berbasis cerita dan konsistensi. Dua hal yang menjadi DNA kerjanya selama bertahun-tahun.
“Di fase awal ini, target saya bukan keuntungan besar. Yang penting orang tahu rasanya, suka, lalu mau repeat order. Bisnis makanan adalah tentang kepercayaan dan konsistensi,” jelas Fadli.
Ia pun menyertakan tester gratis di setiap pembelian, sebagai investasi rasa untuk menumbuhkan loyalitas pelanggan.
Menatap Masa Depan
Respon pasar terhadap 9 Nine Bite cukup hangat. Sejumlah influencer dan figur publik memberikan dukungan, dan pelanggan dari luar kota pun penasaran mencoba, meski distribusi saat ini baru menjangkau Jabodetabek.
Fadli menekankan bahwa perjalanan brand ini masih panjang. Nama 9 Nine Bite sengaja dipilih bersifat general, agar kelak bisa menjadi payung bagi berbagai lini usaha lain.
“Impian saya, 9 Nine Bite bukan sekadar brand makanan beku. Saya ingin ia tumbuh menjadi sebuah korporasi kuliner, bahkan mungkin holding usaha di masa depan. Tapi semua berawal dari rasa, karena rasa adalah bahasa universal,” tutup Fadli.