Ditulis oleh : Kiagus R, Anshori S.Psi M.M (Pengamat Kepemimpinan, Konsultan Senior Speak To Lead Academy, Konsultan Senior Brave International Academy)
Prolead Indonesia – ​Jika kepemimpinan adalah sebuah mesin, maka Khomeini menggunakan “bahan bakar” ideologi yang stabil namun membara, sementara Trump menggunakan “bahan bakar” pragmatisme yang meledak-ledak.
Dampaknya terhadap peta kekuatan Timur Tengah menciptakan dinamika yang sangat kontras.
​Ekspor Revolusi vs Kesepakatan Abad Ini
​Warisan terbesar Ayatullah Khomeini adalah doktrin Ekspor Revolusi. Ia tidak ingin revolusinya berhenti di perbatasan Iran. Dengan membentuk poros perlawanan (Axis of Resistance), Khomeini menanamkan pengaruh Iran di Lebanon (Hizbullah), Irak, hingga Yaman.
Kepemimpinannya mengubah peta Timur Tengah dari dominasi monarki Arab menjadi medan tempur ideologis antara pengaruh Iran dan status quo yang didukung Barat.
​Sebaliknya, Donald Trump mengguncang kawasan dengan pendekatan Transactional Diplomacy. Melalui Abraham Accords, Trump membuktikan bahwa di bawah kepemimpinannya, musuh lama (negara-negara Arab dan Israel) bisa menjadi kawan demi keuntungan ekonomi dan keamanan bersama untuk membendung Iran.
Jika Khomeini membangun “tembok” ideologi, Trump membangun “jembatan” bisnis yang mengesampingkan isu tradisional seperti kemerdekaan Palestina demi stabilitas pasar.
​Konfrontasi: “Tekanan Maksimum” di Dua Era Berbeda
​Khomeini menghadapi Amerika Serikat dengan penyanderaan diplomat dan retorika “Setan Besar,” yang memaksa dunia melihat Iran sebagai kekuatan yang tidak bisa didikte. Kepemimpinannya adalah tentang ketahanan melalui isolasi.
​Trump mengambil jalur sebaliknya dengan kebijakan “Maximum Pressure” (Tekanan Maksimum). Ia menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA) dan menerapkan sanksi ekonomi terberat dalam sejarah.
Namun, uniknya, di tengah eskalasi militer yang terjadi baru-baru ini pada awal 2026, termasuk klaim serangan terhadap infrastruktur strategis, Trump tetap membuka celah untuk “kesepakatan baru.”
Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Trump selalu menyisakan ruang untuk negosiasi, sesuatu yang hampir mustahil dalam kamus “harga diri” Khomeini.
​Suksesi dan Stabilitas Regional
​Khomeini meninggalkan sistem Velayat-e Faqih yang begitu kuat sehingga Iran tetap stabil (secara struktural) bahkan setelah ia wafat pada 1989. Namun, sistem ini kini menghadapi tantangan besar.
Hingga Maret 2026, kabar mengenai kondisi pemimpin tertinggi Iran seringkali menjadi pemicu fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz.
​Trump, dengan gaya kepemimpinan “orang kuat” (strongman), cenderung melemahkan institusi tradisional (seperti NATO atau PBB) dan lebih percaya pada hubungan personal antar pemimpin.
Dampaknya, stabilitas di Timur Tengah di bawah pengaruh Trump sangat bergantung pada siapa yang sedang memegang telepon di Gedung Putih, menciptakan ketidakpastian yang oleh para analis disebut sebagai “perdamaian melalui ketakutan” (peace through fear).
Di tahun 2026 ini, kita melihat bagaimana kedua gaya ini berbenturan secara langsung.
Ketika AS di bawah Trump mengambil langkah militer agresif, sistem yang dibangun Khomeini merespons secara otomatis melalui jaringan proksinya, menunjukkan bahwa meskipun figur pemimpin bisa berganti atau tiada, warisan karakter kepemimpinan mereka tetap menjadi penggerak utama konflik global.