Ditulis oleh : Kiagus R, Anshori S.Psi M.M (Pengamat Kepemimpinan, Konsultan Senior Speak To Lead Academy, Konsultan Senior Brave International Academy)
Prolead Indonesia – Di panggung sejarah modern, jarang sekali kita menemukan dua sosok yang begitu mendominasi narasi global dengan gaya yang sangat bertolak belakang, namun sama-sama mampu menggetarkan fondasi kemapanan politik di zamannya.
Ayatullah Ruhollah Khomeini, sang arsitek Revolusi Islam 1979, dan Donald Trump, pengusaha yang menjungkirbalikkan politik Amerika Serikat, adalah dua kutub kepemimpinan yang mendefinisikan ulang arti “kekuasaan” bagi jutaan pengikutnya.
Meski dipisahkan oleh dekade dan ideologi, keduanya memiliki kesamaan yang mengejutkan: mereka adalah pemimpin yang lahir dari kemarahan rakyat terhadap elit lama (establishment).
Karakter Dasar: Mistisme vs Materialisme
Khomeini memimpin dengan aura asketisme. Ia dikenal hidup sederhana di rumah kecil di Qom, menolak kemewahan duniawi demi visi spiritual yang ia yakini sebagai mandat Tuhan. Kekuasaannya bersifat “transendental”—ia adalah Imam, wakil Tuhan di bumi yang kata-katanya adalah hukum suci.
Sebaliknya, Donald Trump adalah personifikasi materialisme dan kesuksesan visual. Dengan gedung pencakar langit berlapis emas dan branding nama yang ada di mana-mana, Trump memimpin dengan narasi “kemenangan” materi.
Jika Khomeini menjanjikan keselamatan akhirat dan martabat bangsa melalui penderitaan (syahidan), Trump menjanjikan kemakmuran ekonomi dan kejayaan nasional melalui negosiasi transaksional.
Gaya Komunikasi: Wahyu vs Media Sosial
Gaya komunikasi keduanya adalah kunci kekuatan mereka. Khomeini menggunakan pesan-pesan yang dalam, penuh kiasan agama, dan disampaikan melalui rekaman kaset yang diselundupkan, menciptakan rasa rindu dan loyalitas tanpa syarat.
Ia adalah sosok yang dingin, jarang tersenyum, namun kata-katanya mampu menggerakkan jutaan orang ke jalanan.
Trump, di sisi lain, adalah maestro media sosial dan hiburan. Retorikanya lugas, agresif, dan penuh dengan istilah-istilah yang mudah diingat (punchy).
Khomeini berbicara seolah sedang membacakan kitab suci, Trump berbicara seolah sedang berada di atas ring gulat atau acara realitas TV.Â
Namun, keduanya sama-sama efektif dalam menciptakan loyalitas “kultus” di mana pendukung mereka merasa memiliki hubungan personal dengan sang pemimpin.
Pendekatan Konflik: “Setan Besar” vs “Amerika Pertama”
Khomeini membangun identitas Iran melalui perlawanan terhadap apa yang ia sebut sebagai “Setan Besar” (Amerika Serikat). Baginya, kepemimpinan adalah tentang keteguhan prinsip ideologis yang tidak bisa dinegosiasikan. Kompromi seringkali dianggap sebagai pengkhianatan terhadap iman.
Sementara Trump membawa pendekatan “America First” yang bersifat proteksionis. Baginya, musuh bukan sekadar ideologi, melainkan siapa saja yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi Amerika.
Berbeda dengan Khomeini yang kaku, Trump adalah seorang pragmatis ulung yang bisa berubah dari ancaman perang menjadi tawaran kesepakatan dalam sekejap selama itu menguntungkan “brand”-nya.
Dua Sisi Koin “Anti-Sistem”
Meski Khomeini memakai sorban hitam dan Trump memakai dasi merah sutra, keduanya adalah pemimpin yang muncul saat rakyat merasa dikhianati oleh sistem yang ada.Â
Khomeini menggulingkan monarki Pahlavi yang dianggap boneka Barat, sementara Trump mengguncang elit Washington yang dianggap abai terhadap rakyat kecil.
Pada akhirnya, Khomeini meninggalkan warisan berupa institusi teokrasi yang kokoh namun kaku, sementara Trump meninggalkan warisan berupa gerakan populis yang cair namun sangat vokal.
Keduanya membuktikan bahwa di era mana pun, pemimpin yang paling kuat bukanlah mereka yang paling moderat, melainkan mereka yang mampu menyentuh emosi terdalam dari pengikutnya.