Ditulis oleh : Kiagus R, Anshori S.Psi M.M (Pengamat Kepemimpinan, Konsultan Senior SpeakĀ To Lead Academy, Konsultan Senior Brave International Academy)
Prolead Indonesia – Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pedagang kain yang tetap bersahaja meskipun telah dilantik menjadi khalifah.
Beliau tetap pergi ke pasar untuk berjualan demi menafkahi keluarganya, hingga akhirnya bertemu dengan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu yang mengkhawatirkan tugas kekhalifahannya akan terbengkalai jika beliau sibuk berdagang.
Atas saran Sayyidina Umar, mereka menemui Abu Ubaidah Radhiyallahu ‘anhu untuk menetapkan gaji bagi khalifah dari Baitul Mal.
Besaran gaji yang ditetapkan sangatlah sederhana, yakni hanya setara dengan keperluan makan warga Muhajirin biasa, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.
Suatu ketika, istri beliau ingin memakan manisan namun Abu Bakar tidak memiliki uang lebih untuk membelinya. Sang istri kemudian menyisihkan sedikit demi sedikit uang belanja harian hingga akhirnya terkumpul cukup uang untuk membeli manisan tersebut.
Melihat sisa uang yang berhasil dikumpulkan istrinya, Abu Bakar merasa bahwa gaji yang diterimanya dari Baitul Mal ternyata telah melebihi kebutuhan pokok keluarganya.
Beliau pun mengembalikan uang simpanan tersebut ke Baitul Mal dan meminta agar gajinya selanjutnya dikurangi sebesar jumlah yang bisa disisihkan istrinya.
Di balik kesibukannya sebagai pemimpin umat, Abu Bakar sebenarnya merasa bahwa hasil berdagang sudah cukup untuk menghidupi keluarganya.
Namun, karena tanggung jawab besar mengurus urusan kaum Muslimin, beliau terpaksa mengambil tunjangan dari Baitul Mal agar bisa fokus menjalankan amanah sebagai khalifah.
Menjelang wafatnya, Abu Bakar berwasiat agar seluruh uang gaji yang pernah ia terima dikembalikan kepada khalifah penggantinya.
Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta benda berharga, hanya menyisakan seekor unta perah, sebuah mangkok, hamba sahaya, serta sehelai selimut dan kain alas yang diserahkan kepada Sayyidina Umar.
(Dikutip dari Kitab Fathul Bari)
Hikmah
Bayangkan jika saat ini ada pemimpin yang begitu hati-hatinya dalam penggunaan uang rakyat, dia tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan keluarganya apalagi kepentingan kelompoknya.
Sayidina Abu Bakar telah berhasil mencatat sejarah kepemimpinan dunia menjadi seorang pemimpin sejati yang dicintai rakyatnya.